Senin, 22 November 2010

MAKNA dan TUJUAN KEPEMIMPINAN


Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.[1] Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.[2] Kepemimpinan selalu bersandar kepada lima elemen pokok, yaitu:
(1) Adanya pemimpin,
(2) Adanya pengikut,                            
(3) Terjadinya proses memengaruhi,
(4) Kontekstual atau situasional,
(5) Mencapai tujuan.
            Ordway Tead dalam bukunya “The Art of Leadership” merumuskan pengertian dari ‘kepemimpinan’ sebagai berikut :
“Leadership is the activity of influencing people to cooperate toward same goals wich they come to find the sir able.”
Bagi Tead, Leadership hanya merupakan kegiatan mempengaruhi orang. Dari pengertian ini seolah-olah Tead berhasil meneliti Leadership itu dan menemukan satu pengertian yang secara ilmiah tampak universal dan rasional. Padahal kalau diteliti penulis lain yaitu Jennings dalam bukunya “ An Anatomy of Leadership” mempunyai kesimpulan  yang berbeda sama sekali. Jennings berkata
we see then that leadership is represented mainly by an emotional and even an unconscious attitude rather than an intelectual or rational attitude”.
Akhirnya Jennings berkesimpulan mengapa banyak orang yang telah melakukan pengkajian mengenai leadership ini secara ilmiah tetapi sampai sekarang belum berhasil menghimpunnya menjadi satu pengetahuan mengenai apa sesungguhnya yang merupakan peranan daripada leadership itu.[3] Pola- pola kepemimpinan dari organisasi yang satu dengan organisasi lainnya, tergantung atas beberapa faktor seperti tujuan, tugas pokok, fungsi, jenis kegiatan, besar kecilnya organisasi dan lain sebagainya.
Ditinjau dari segi manajemen, kepemimpinan harus diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain agar rela, mampu dan dapat mengikuti keonginan manajemen demi tercapainya tujuan yang telah di tentukan sebelumnya dengan efesien, efektif dan ekonomis.[4]
Kepemimpinan merupakan bakat dan seni tersendiri tidak seorangpun menyangkalnya. Memiliki bakat kepemimpinan berarti menguasai seni atau teknik melakukan tindakan-tindakan seperti teknik memberikan perintah, memberikan teguran, memberikan anjuran, memberikan pengertian, memproleh saran, memperkuat identitas kelompok yang dipimpin, memudahkan pendatang baru untuk menyesuaikan diri, menanamkan rasa disiplin dikalangan bawahan serta membasmi desas-desus dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka sudah jelas bahwa keberhasilan manajemen akan ditentukan oleh keberhasilannya dalam mempengaruhi orang-orang tersebut. Ini berarti bahwa keberhasilan manajemen akan di tentukan oleh efektifitas kepemimpinannya. Oleh karena itu kepemimpinan atau leadership dapat dikatakan inti dari manajemen. Dan karena itu pula, maka seharusnya setiap orang yang melaksanakan fungsi manajemen, memiliki dan me;laksanakan kepemimipinan dengan baik.[5]
Menurut Dr. Buchari Zainun Leadership atau Kepemimpinan dapat diartikan sebagai satu kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kemampuan untuk mencapai cita-cita dengan keberanian mengambil resiko yang bakal terjadi. Dengan kekuatan atau ketangguhan  itu seseorang atau sekelompok orang mampu menguasai dan mengendalikan orang banyak untuk mencapai cita-cita dimaksud.
Menurut Bpk. Akmaluddin Hasibuan (CEO perusahaan PTPN XIII dari 1998-2003 dan PTPN III dari 2003-2006) ada beberapa makna kepemimpinan[6] diantaranya yaitu:
Makna pertama yaitu adanya pemimpin diartikan Akmaluddin Hasibuan, sebagai bentuk tanggung jawab seorang pemimpin. Ketika seseorang didaulat menjadi pemimpin maka dia akan bertanggung jawab untuk menetapkan arah, tata nilai, dan sasaran yang hendak dicapai organisasi.Dalam menetapkan arah, tata nilai dan sasaran ini harus berimbang memperhatikan kepentingan para stakeholders. Wujud dari tanggung jawab yang lain adalah memastikan proses formulasi yang efektif dalam merumuskan strategi, sistem dan metode untuk mencapai sasaran organisasi. Tidak ketinggalan membangun intelektual kapital, memobilisasi serta memotivasi para konstituennya dan merangsang inovasi demi kelangsungan organisasi.
Makna kedua, adanya pengikut, tak salah merupakan wujud untuk menjalankan sikap marhamah. Pengikut sebagai pelaksana ide-ide besar pemimpin jelas akan menjadi ujung tombak keberhasilan organisasi. Hanya saja membentuk pengikut yang cakap dan ‘loyal’ diperlukan kecerdasan spiritual pemimpinnya. Akmaluddin Hasibuan memakai prinsip marhamah, yaitu memimpin anak buah melalui kasih.
Makna ketiga, terjadinya proses memengaruhi yang tak lain makna paling primitif dari kepemimpinan. Disebut pemimpin apabila ia mampu memengaruhi para konstituennya. Ide-ide besar, langkah-langkah stategis, dan kemampuan untuk mencapai apa yang telah menjadi sasaran organisasi hanya akan terjadi apabila pemimpin memiliki pengaruh.
Makna keempat, kontekstual atau situasional, berhubungan dengan kecakapan membaca perubahan lingkungan usaha. Agar sukses berselancar dengan gelombang perubahan ini, Akmaluddin Hasibuan melakukan dua hal pokok:
(1) Proses rekayasa bisnis yaitu dengan menjalankan reposisi bisnis, desain ulang sistem bisnis dan strategi bisnis.
(2) Membangun budaya perusahaan melalui perubahan paradigma, implementasi tata nilai dan mengasah kompetensi seluruh karyawan. Berbasis pada dua hal ini, maka pemimpin menjalankan prinsip kepemimpinan kontekstual atau situasional dapat dipilih dengan elegan.
.           Makna kelima, mencapai tujuan. Inilah pertandingan akhir seseorang disebut pemimpin besar atau justru pecundang. Keempat makna kepemimpinan akhirnya bergaung menggema melewati batas-batas wilayah kekuasaannya apabila sang pemimpin berhasil dengan gemilang mencapai tujuan yang telah dicanangkan pada masa awal kepemimpinannya

Kepemimpinan merupakan cabang dari kelompok ilmu administrasai, khususnya ilmu administrasi Negara. Sedang ilmu administrasi Negara adalah salah satu cabang dari ilimu-ilmu sosial, dan merupakan salah satu perkembangan dari filsafar.
Dalam kepemimpinan ini terdapat hubungan antar manusia yaitu hubungan mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepatuhan-ketaatan para pengikut/bawahan karena dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan pada pemimpin.
Kepemimpinan dimasukkan dalam kategori “ilmu terapan” dari ilmu-ilmu sosial sebab prinsip-prinsip, definisi, dan teori-teorinya diharapkan dapat bermanfaat bagi usaha peningkatan taraf hidup manusia. Seperti ilmu-ilmu lain, kepemimpinan sebagai cabang ilmu bertujuan[7] untuk :
1)      Memberikan pengertian mengenai kepemimpinan secara luas
2)      Menafsirkan dari tingkah laku pemimpin
3)      Pendekatan terhadap permasalahan sosial yang dikaitkan dengan fungsi pemimpin
Disisi lain menyebutkan bahwa tujuan Kepemimpinan adalah membantu orang untuk menegakkan kembali, mempertahankan dan meningkatkan motivasi mereka. Jadi pemimpin adalah orang yang membantu orang lain untuk memperoleh hasil-hasil yang diingankan.[8]
Pemimpin dan kepemimpinannya ada dalam proses perkembangan. Tak ada seorang pemimpin pun yang tak perlu menyempurnakan diri sebagai pemimpin dan dalam praktek kepemimpinannya. Tidak ada pemimpin yang sudah selesai. Maka entah terdorong dari dalam atau dipaksa oleh desakan dari luar setiap pemimpin berusaha memperkembangkan diri agar mendukung peranannya sebagai pemimpin, menambah pengetahuan yang memperluas wawasannya tentang kepemimpinan dan melatih teknik-teknik serta kecakapan yang membuat kegiatan kepemimpinannya lebih efektif.[9]
Kepemimpinan terdapat di segenap organisasi, dari tingkat yang paling kecil dan intim yaitu keluarga sampaike tingkat desa, kota, Negara, dari tingkat lokal, regional sampai nasional dan internasional, dimanapun dan kapanpun juga. Misalnya sejak zaman batu dikala sekelompok manusia berkumpul mengitari api unggun yang tengah menyala dan mendengarkan perintah-perintah pemimpinnya sampai pada zaman mutakhir dengan segenap kompleks industri dan kompleks birokrasi pemerintahan yang serba rumit.
Kepemimpinan adalah masalah relasi dan pengaruh antara pemimpin dan yang dipimpin. Kepemimpin tersebut muncul dan berkembang sebagai hasil dari interaksi otomatis diantara pemimpin dan individu-individu yang dipimpin (ada relasi interpersonal). Kepemimpinan ini berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak, mempengaruhi, dan menggerakkan orang-orang lain guna melakukan sesuatu, demi pencapaian satu tujuan tertentu. Dengan begitu pemimpin terrsebut ada bila terdapat kelompok atau satu organisasi. Maka keberadaan pemimpin itu selalu ada di tengah-tengah kelompoknya.
Ketua umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengungkapkan keprihatinannya atas kenyataan bahwa banyak kepemimpinan yang berakhir kurang manis, termasuk pemimpin Indonesia. Keprihatinan itu disampaikan saat menghadiri wisuda XXI Program Pascasarjana (UWP) di Hotel Shangri-La.
Dia mencontohkan beberapa presiden Indonesia yang menjabat sebelum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).”Banyak pemimpin yang berakhir kurang manis pada akhir kepemimpinan” ujar Anas. Beliau menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah dan tidak pasrah pada keadaan. Jika mau sedikit demi sedikit  mempelajari potongan dan alur sejarah negara ini, bangsa Indonesia pasti bisa berbenah.[10]
Selain itu beliau juga menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi sebagai indikatir negera maju atau tidak. Menurut beliau bila ekonomi bisa tumbuh 1 persen saja maka akan tercipta lapangan kerja bagi 400 ribu orang. Itu jumlah yang cukup besar dengan kondisi perekonomian banyak Negara di dunia yang saat ini terpuruk.
Setiap Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak, dan kepribadian sendiri yang unik khas sehingga tingkah laku dan gayanya lah yang membedakan dirinya dari orang lain. Gaya atau style hidup pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinan. Sehingga muncullah beberapa tipe kepemimpinan.
W.J Reddin dalam artikelnya What Kind Of Manager  dan disunting oleh Wahjosumidjo (Dept. P & K Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai 1982) menentukan watak dan tipe pemimpin atas tiga pola dasar yaitu: berorientasikan tugas (task orientation), hubungan kerja (relationship orientation) serta hasil yang efektif (effectives orientation).

Daftar pustaka

         Kartono, kartini. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan, apakah pemimpin abnormal itu?. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Keating, charles J. 1986. Kepemimpinan, Teori dan pengembangannya Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Sunindhia, YW & Dra. Ninik Widiyanti.1993.  Kepemimpinan dalam Masyarakat Modern. Jakarta: PT Rineka Cipta
Wayne Pace, R & Don F. Faules. 2006.  Komunikasi Organisasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


[1] Nurkolis, "Manajeman Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi", Grasindo, 2003,
[2] John Adair, "Cara Menumbuhkan Pemimpin", Gramedia Pustaka Utama,
[3] Dr. Buchari Zainun, “Kepemimpinan Nasional yang mantap ditinjau dari sudut ilmu administrasi Negara”, Jakarta, 1984 halaman 3
[4] Prof. Dr. S.P. Siagian, Op. Cit, halaman 97
[5] Y.W. Sunindhia, S.H. dan Dra. Ninik Widiyanti “kepemimpinan dalam masyarakat modern” 1993  PT Rineka Cipta, Jakarta halaman 8
[6] Blog pribadi Bpk Akmaluddin Hasibuan
[7] DR. Kartini Kartono “PEMIMPIN dan KEPEMIMPINAN, apakah pemimpin Abnormal itu?” 1994 PT Raja Grafindo Persada, Jakarta halaman 2
[8] R. Wayne Pace & Don F. Faules “Komunikasi Organisasi” 2006 PT. Remaja Rosdakarya Bandung halaman 276
[9] Charles J keating “kepemimpinan teori dan pengembangannya” 1986 Kanisius yogyakarta.
[10] Artikel “ Banyak Pemimpin  Berakhir Kurang ” Jawa Pos Senin 8 November 2010 halaman 35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar